30 Cerita Raina - 2

30 Days After Rain

2 – Berkabung


Awan gelap melintas diatas kepala. Angin berhembus rendah, memberikan hawa dingin. Menikam perasaan. Di sana, seorang gadis kecil berdiri di samping gundukan tanah dengan taburan bunga. Masih basah. Matanya menyorot bingung menatap nisan yang tertancap diatas gundukan itu.

Orang-orang yang berjejer disepanjang makam menatapnya prihatin. Gadis kecil itu baru berusia dua tahun. Dan hari ini, ibunya telah berpulang. Anak yang malang. Begitu yang mereka bilang.

Sedari tadi, ia sibuk bertanya kepada wanita paruh baya yang tidak lepas menggenggam tangan mungilnya, “Ini ada apa, Tante? Kenapa semua orang menangis?“ 

Secuil pertanyaan itu telah menceloskan hati wanita yang di panggil “Tante“ oleh gadis kecil itu. Matanya mulai berair.

Gadis kecil itu memiliki rambut hitam lurus sebahu dan poni yang tergerai menutupi dahi. Pipinya tembam dan bibir kecilnya berwarna merah muda. Manis sekali.

Sekali lagi, ia sibuk bertanya, “Ini kenapa, Tante? Mama dimana? Raina mau sama mama.“

Cukup sudah bagi wanita itu, hatinya teriris dan cairan bening sukses merosot tanpa bisa di kontrol.

Gadis itu semakin bingung. Segaris kerutan tercetak di dahinya. Mata besarnya bergerak memandang jejeran orang-orang, kemudian beralih kearah makam, lalu berhenti pada wanita paruh baya yang sekarang mensejajarkan dirinya setinggi gadis kecil itu.

“Why you crying?” tanyanya seraya menghapus cairan bening di pipi wanita itu dengan tangan mungilnya.

Seakan suaranya menghilang, wanita itu langsung memeluk tubuh kecil Raina dengan erat. Menghirup wangi tubuh gadis kecil itu dengan sayang.

 

Jika saja ia bisa bilang dengan mudah kalau yang berada di dalam gundukan tanah basah itu adalah ibunya. Namun ia bisu kala mata bundar gadis kecil itu menatapnya dengan polos dan suci. Wanita itu tidak sanggup bila hati bersih gadis kecil seperti Raina akan teriris dan sakit.

Bila saja penderitaan gadis kecil itu bisa tertukar dengannya, maka ia akan rela. Mengapa Tuhan mengambil harta dunia yang paling berharga bagi Raina saat umurnya hanya masih dua tahun? Apakah langit mampu menjawabnya dan berbaik hati dengan mengembalikan ibunya? Apakah dunia se-tidak adil itu pada anak kecil yang masih suci?

Seketika suara petir menyambar kala pertanyaan itu terlontar. Wanita itu semakin mengeratkan pelukannya.

Mungkin Tuhan tidak marah. Namun hanya menegurnya. Siapa yang lebih tau jalan hidup makluk di bumi dan seisinya? Hanya Tuhan. Wanita itu tidak pantas mengatur kehendakNya.

Namun, bukankah manusia bersifat baharu? Mungkin saja ia khilaf karena nafsunya menyeluruhinya.

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (Q.s. Al-Kahf [18] : 46)

“Maryam,” tegur seorang pria yang berdiri disamping mereka. Tangannya bergerak mengusap punggung wanita itu dengan lembut.

Meski sekarang wanita itu belum memberitahu hal yang sebenarkan kepada Raina, cepat atau lambat gadis kecil itu pasti akan tau karena ia tidak pernah absen untuk bertanya, “Mama dimana, Tante?“ 

Perlahan, pelukannya merenggang. Ia beranikan menatap mata bundar nan polos milik gadis kecil itu. Dengan menghela napas dan bibir kaku, wanita itu menjawab, “Mama sudah menghadap Tuhan, Sayang,“ tepat kedalam mata Raina.

Gadis kecil yang polos itu masih belum mengerti. Kenapa menghadap Tuhan? Tuhan tinggal dimana sampai mama harus kesana? kenapa Raina tidak di ajak?

“Tante,” lirihnya

“Kenapa mama tidak mengajak Raina? Apakah Raina anak yang jahat sampai mama tidak mau membawa Raina?” 

Bukan hanya wanita itu yang berderai air mata, namun jajaran orang-orang di sana ikut menangisi gadis kecil itu. Wanita itu meraihnya lagi, memeluknya erat seperti awal kali. 

Raina, dalam pelukan wanita itu, dengan perasaan yang ia tidak tau apa maksudnya. Ia menangis. Kristal air yang menggelayut di pelupuk matanya mersot ke pipi. membentuk parit dan tertahan di dagu. Menumpuk. Kemudian dengan perlahan, terlepaskan ke tanah. Dengan p-e-r-l-a-h-a-n. 

Dan saat bulir pertama air matanya terjatuh, untuk kedua kalinya petir menyambar menyilaukan. Disusul suara guntur yang menggelegar. Lalu, saat cairan bening itu tepat menyentuh tanah-Nya, langit langsung menurunkan hujan dengan lebatnya. Membasahi seisi kota. 

Raina sudah lelah bertanya. Pandangannya kosong meski matanya basah. Mengapa tidak ada yang bisa memberinya penjelasan atas pertanyaannya yang sederhana ini?

Lantas, orang-orang di sana membuka payung mereka, kocar-kacir. Berlarian pulang menuju rumah. Takut dengan kilat dari langit. Meninggalkan gadis kecil yang malang dalam keadaan berkabung. Lupa bahwa mereka tadi menangisinya.

Raina menyaksikan semuanya. Menyaksikan gadis kecil yang juga memiliki nama yang sama dengannya. Ia tidak beranjak dari posisinya meski ibunya telah menarik pelan tangannya untuk pulang. Gadis itu membiarkan tubuhnya ikut basah di guyur hujan. 

Sorot matanya memandang lurus wajah gadis kecil itu yang sekarang air matanya tertutupi air hujan. Raina kecil masih dalam pelukan wanita bernama Maryam dan seorang pria yang masih berdiri di sana seraya memayungi tubuh mereka di bawahnya. 

Raina berkata dalam hati, “Hari ini aku tidak mati. Namun, aku menyaksikan kematian.“ 

Pandangannya kemudian beralih pada makam di depannya. Ibu dari gadis kecil itu telah tiada saat ia masih berumur dua tahun. Berbeda dengannya, Raina, gadis remaja yang telah beranjak delapan belas tahun. Ia masih punya ibu. Tuhan masih berbaik hati padanya. 

Dengan perasaan yang berkecamuk di dada. Tanpa aba-aba apapun, cairan bening merosot dengan tanpa rasa malu. Tertahan lama di pipi karena titik hujan yang ikut menumpuk. 

“Ra,“ panggil ibunya. 

Retina hazel milik Raina memandang wajah ibunya yang mulai menua. Tampak sedikit kerutan di wajah malaikat tanpa bersayap itu. 

Dengan bibir bergetar, Raina berkata, “Buk, semoga hidupmu lama di sini. Membersamaiku dalam setiap langkahku menuju baktiku padamu.“

Raina meraih tangan ibunya, mencium punggung tangannya yang sewangi mawar. Sempurna saat bibirnya bersentuhan dengan punggung tangan ibunya, air matanya luruh merosot ketanah. 

Sekali lagi, langit mengeluarkan bunyi guntur. Namun kali ini lebih memekakkan telinga. Dua bulir air mata jatuh ketanahNya dari dua orang “Raina“ dalam tubuh yang berbeda. Langit memiliki rahasia sendiri untuk dua orang Raina yang tangisnya mengundang hujan. 

Maka, Kamelia dibuat kaku oleh pernyataan Raina. Darahnya berdesir memberikan sengatan aneh di hatinya. Lantas tangan kirinya melayang mengusap surai hitam anaknya dengan sayang. Menenangkan. Menghangatkan hati. 

“Semoga Tuhan memberiku waktu yang panjang untukmu. InshaAllah.“


 __________________

Banda Neira - Sampai Jadi Debu 

https://www.youtube.com/watch?v=JjFeJ608VKc

Comments

  1. Apasih, gatau orang lagi sedih apa? Malah bikin gini huh kesel aing

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya maapkan diri ini mbakk. Tungguin cerita Raina selanjutnya yaaa

      Delete
  2. Semangat mbak! Lanjut dongg

    ReplyDelete
  3. Blog ini mengandung bawang sejak cerita pertama😭

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

6| Masikah Kita Menjadi Seorang Indonesia Hari Ini?

8| Dibalik Kelezatan Mie Instant

5 | Between Us and The Others