6| Masikah Kita Menjadi Seorang Indonesia Hari Ini?

Happy satnight, Oll! Cuaca di Medan hari ini cerah, ga tau kalo besok. Sama kaya iklan marjan yang belum tau kelanjutannya gimana, wkwk. 

Sabtu pagi dirumah, tv udah di setting nonton ceramahan Ustaz Maulana. Memang tiap pagi si Ibuk tontonannya itu, sih. Tapi aku ga ikut nimbrung, cuma ngelirik sekilas doang waktu ngelewati ruang tv. Sampe jam setengah tujuh pagi waktu baru beres nyuci piring, ada berita siaran lokal. Aku lupa di chanel mana tapi yang pasti itu berita Medan. Media itu menyorot satu tempat makan yang unik, namanya Cafe Rumah Pohon. Elisa Pane, nama si pemilik cafe. Tempat makan khas tradisional itu menggunakan andaliman sebagai bahan rempah-rempah untuk memasak. Dimana andaliman merupakan rempah-rempahnya orang batak. Si Ibuk Elisa Pane ini ingin melestarikan masakan khas Indonesia ke generasi penerus. Salah satunya dengan membuka tempat makan dengan menu lokal. 

Satu hal yang kulihat dari berita itu adalah, di zaman yang semakin canggih dengan arus globalisasi ini, Ibuk Elisa Pane si owner cafe memilih menjaga dan melestarikan apa yang memang menjadi ciri khas Indonesia dan café itu berjalan pesat. Kalian bisa liat sendiri di google banyaknya pengunjung yang datang dan memberi ulasan yang baik. As we know, zaman sekarang banyak restoran cepat saji bergaya western yang banyak digemari anak muda. Mulai dari McD, KFC sampe Mixue yang katanya kalo ada ruko kosong pasti bakal dijadiin gerai ice cream. 

Tapi itu memang merupakan salah satu pengaruh globalisasi di sektor ekonomi. Tergantung cara kita yang ngejalaninya. Dan usaha Ibuk Elisa Pane tadi mampu menyaingi restoran-restoran cepat saji itu. That’s cool! Menurutku, sama kaya menjaga identitas nasional yang kemarin baru dibahas di kampus. 

Ngomongin soal identitas nasional, Pak Syahwardi, dosen MK Kewarganegaraan cerita soalan makanan khas Indonesia yaitu rendang yang diakui Malaysia sebagai warisan budaya mereka. Udah ga kaget lagi sih kalo Malaysia suka mengklain warisan budaya Indonesia sebagai milik mereka. Contoh lainnya, batik, angklung, reog ponorogo, wayang, keris, sampe cerita legenda Malin Kundang yang ngebuat Susanti adu mulut sama Ipin. 

Identitas nasional merupakan ciri-ciri atau jati diri. Singkatnya, identitas nasional adalah jati diri suatu bangsa yang akan membedakan bangsa satu dengan bangsa lain. Dengan pesatnya arus globalisasi dan teknologi, pasti selalu ada dampak positif dan negatifnya. Bisa kita lihat dari masuknya budaya asing yang masuk melalui teknologi, budaya, dan sosial. Menurutku, budaya asing adalah salah satu dampak yang paling mendominasi dan selalu menjadi trend-centre masyarakat. Mulai dari cara berpakaian, bertutur kata, sampe pola hidup. Terutama para remaja. Memang mereka kritis, kreatif dan melek iptek. Tapi lain dari dampak positif itu, ada satu kebiasaan buruk yang memang menjadi ciri khas kaum remaja, yaitu latah (ikut-ikutan). Tanpa memilah-milah mana yang baik atau buruk. Yang penting keliatan keren dan tidak ketinggalan trend. Note to myself.

Budaya kesopanan semakin terkikis karena asupan-asupan tak bergizi.Tapi ga pyur mengklaim semua itu kesalahan pihak luar. Karena segala sesuatu yang masuk itu tergantung diri sendiri yang menerimanya. Ga jauh-jauh ngeliat kedepan, anak kecil sekarang aja lagunya bukan lagi lagu se-umurannya. Malah banyak anak-anak yang ga hapal dan ga tau lagu anak-anak. Memang seni itu takarannya bukan usia, melainkan nilai yang dihasilkan oleh seni itu. Seperti lukisan, semakin abstrak ia maka semakin tinggi pula nilai estetikanya. 

Dari sejak usia dini, suatu nilai atau budaya harus ditanamkan. Kalau dari kecil udah terbiasa dengan budaya yang tidak baik, maka ketika si anak beranjak tumbuh akan susah untuk mengubah kebiasaan buruk tadi. Anak kecil adalah subjek yang paling mudah meniru apa yang dilihat maupun di dengarnya meski mereka ga tau apa arti dari perbuatan yang mereka lakukan. Buktinya, anak kecil sekarang dengan santainya ngomong anjai dalam berinteraksi. Dia gatau kata-kata anjai itu apakah kata-kata mutiara atau kata-kata umpatan. Yang dia tau, kata-kata itu banyak dipakai oleh orang-orang di video yang dia tonton. Entah itu instagram, youtube, atau tiktok. 

Pola pikir kita bisa dipengaruhi dengan apa yang kita baca dan kita tonton. 

Dengan iptek yang semakin canggih, sekarang KTP aja udah digital supaya ga susah-susah cetak kartu dan BRI udah punya Brimo. Transaksi sekarang ga perlu repot-repot pake uang cash. Mungkinkah sepuluh atau lima belas tahun mendatang, negara ga lagi nyetak uang kertas atau logam? Bisa aja uang kertas yang kita gunain sekarang untuk transaksi udah jadi sejarah dan dipajang di museum. Who knows? 

Terus, gimana nasib orang tua diatas kita yang ga tau iptek sama sekali? Yang pasti, kita sebagai penerus negri rempah-rempah ini yang akan melanjutkan usaha mereka yang telah berinovasi. Kita juga gabisa hidup tanpa teknologi. Karena memang, zaman terus berkembang dan kita harus menyesuaikan. Seperti yang Ali bin Abi Thalib katakan, didiklah anakmu, sesuai dengan zamannya. Karena mereka hidup di zaman mereka, bukan di zamanmu. 

Mempelajari dan mengenal budaya lain itu baik, selagi kita tau nilai apa yang terkandung didalamnya. Sama halnya dengan belajar bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Aku sendiri paling ga suka sama orang yang suka ngatai orang sok inggris. Padahal dia ngomong gitu karena memang gatau artinya. Karena aku anak bahasa, otomatis mempelajari bahasa dan budaya asing. Ya walaupun bahasa inggrisku ga cas-cis-cus, but I’m still trying my best. 

Memang bagi kita yang mempelajari budaya lain tampak begitu menggiurkan untuk dipelajari apalagi dipraktekkan. Karena memang setiap negara punya budaya yang keren dan punya nilai. Maksudku, untuk menambah wawasan kita dalam mempelajari hal tersebut itu bagus. Tapi bukan untuk merubah diri kita menjadi bagian dari mereka. Karena kita bukan mereka, dan mereka bukan kita. 

Ada satu cuitan di twitter, isinya begini: 

Utamakan bahasa Indonesia, 

lestarikan bahasa daerah, dan pelajari bahasa asing. 

Jadi, jangan pake iming-iming nasionalis karena seseorang mempelajari suatu bahasa dan budaya. 

Identitas suatu bangsa berpengaruh pada bangsa itu sendiri. apa-apa saja yang menjadi ciri khas masyarakat dan kebudayaan yang ada di negri itu. Identitas dikatakan bertahan jika kita hari ini yang menjaganya. Kita, sebagai oknum pewaris kebudayaan yang akan menjaga dan melestarikan identitas itu sendiri. jangan terlalu gampang menerima pengaruh dari luar tanpa dipilah-pilah, tetapi juga mampu menjaga dan melindungi apa yang memang menjadi milik kita. Karena, kalau bukan kita siapa lagi? Dua puluh tahun kedepan pasti yang mejadi petinggi-petinggi negara pasti giliran kita kan? Kalau kita yang tidak memiliki nilai seorang Indonesia, bagaimana bisa menjadi pemegang tanah surga ini?

Ya, meski kita ga mau dibilang kuno dan kurang hits, namun alangkah baiknya kita menjadi hits dengan nilai-nilai budaya kita sendiri. Bukan berarti harus bersikap chauvinism, mengikuti dan menerima kebudayaan luar boleh saja, asalkan kita tau batasan dan aturan. Dan jangan sampe budaya yang masih lestari hari ini hanya menjadi sejarah di masa depan. Karena, kemajuan zaman bisa jadi kemunduran suatu peradaban. Dan semua itu berawal dari diri kita sendiri


🌻🌻🌻🌻 

It’s all about my opinion and don’t judge me for that. Kalo ada kurangnya silahkan tambahin di bawah kaya biasaa, ya, Oll. See yaa in the next chapter! Sebentar lagi ramadhan, yang masih punya utang puasa segeralah dibayar. Yang masih gamon, segeralah move-on.

 

~ Wijayakusuma from Ardhito Pramono, play on my spotify.

Comments

  1. Medan hari ini cerah, secerah harapan orang tua.

    Western dan hedon, ciri remaja sekarang. Konser blackpink kmren contohny, cewe" pake baju crop top supaya sama sama idol mereka. I know when u 're the fans, u want to duplicate ur idol style. Tapi mnrutku gausa smpe segitunya kalo ngefans, bahkan yg orng islam pun pake bju kurang bahan gt. Suka mikir mereka" yg islam tapi nonton konser itu sholatnya gmne?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya gapernah nonton konser mbak, jadi ga tau gimana sholatnya. Kalo ngefans, adikku juga kpopers tapi ya ga ikutan pake² baju gituan. it's aurah. Boleh aja kita ngefans tapi ttp tau batasan. Karena kita punya aturan agama untuk dipatuhi

      Delete
    2. Yeah, im kpopers, tapi aku ngambil sisi positif dari idol, like how to be confident and be your self, yaaa tau sih kalo belajar gitu doang ga harus dari idol, tapi masing" orang punya caranya sendiri kan? Paling ga suka kalo dibilang "ngefans sama plastik" "orang Korea ga sunat" emangnya kenapa?? Toh aku ga suka sama kelaminnya juga, aigooo sekkiyaaa Jancukeee

      Delete
  2. Udah bkn rhasia umum lagi kalo malaysia ngambil budaya indo. Difilm upin ipin waktu episode tok dalang main wayang, terus layangan besar itu, keris sakti, lagu burung kakak tua pun diambil. Tapi satu hal sih mbak, kenapa gk orng indo yg ngebuat kartun menceritakan budaya² indo kalo memang gk terima diambil sama mereka?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dan saya termasuk orng yang suka nonton upin ipin mbak. I'm agree with u. Bahkan batik sendiri yg milik indo dicap mereka jadi punya mereka. Tapi disana ada ashad motaw yang ganteng wkwk

      Delete
  3. Yap, kalo gk kitanya sndiri siapa lg? Sama kaya buang sampah yg mnndakan ciri seseorang. Warga +62 juga suka nyampah dan itu jd identitas mereka

    ReplyDelete
  4. Jangan takut beropini mbak. Sering2 update yaa semangat!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak pikiran dikepala yg pengen dikeluarin, tapi rasanya males ngetik mbak. Pengen bicara langsung, dan itu hobi saya sekarang (ngomong sendiri)

      Delete
  5. Kita mmng mudah tergiur sama hal dan trend baru. Bahkan Jungfood dirasa lebih keren dan modrn dari makanan lokal. Starbucks dulu, biar bisa bikin story. Kalo teh manis dingin kan kuno dan terkesan ga anak tongkrongan bgt. Sbnernya yg ngebuat terkikisnya identitas bangsa ya anak bangsanya sendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. I agree mbak freyyy. Boleh aja konsumdi gituan tapi jangan over dan jadi kebiasaan

      Delete
    2. Happy sahurr mbaaa

      Delete
  6. Pak ardii yaolo yaolo aku padamu pak. Solawatin boleh kan mbak bismilah my lecture my husband 🤣🙏🏻

    ReplyDelete
  7. Anak sekrng sukny lagu komang mba😭 terus itu yg terkenal itu lagu ojo dibandingke pdhl mrka gatau artinya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo gempi sukanya lagu Raisa Anggiani mba

      Delete
  8. Bener mbak, yg ngomongin sok inggris itu gapande inggris jadinya dia iri. Saya sendiri suka bljr bahasa korea mbak tapi orng" pd mikir klo sy kpopers juga. Pdhl blum tntu orng bljr bahasa tapi juga suka artisny.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yg belajar bahasa jepang dibilang wibu, yg bljar bahasa korea dibilang kaum plastik, yg belajar bahasa jerman dibilang guy karena ada ragil😭

      Delete
  9. Della putri syifa jadi presiden 2024 🔥 sekarang masih jadi turunan gitasav dan maudy yg kritis otaknya bedanya cuma gamon doang. Km sok nyuruh orang move, pdhl tiap hari gamon.mklum kok km hts mbak

    Contoh lainnya, yg cowok jd kya cewe yg cewe jd kaya cowo. Apalagi pacaran yg udah jadi budaya. Mlh kalo blm punya pacar dikira ga laku dan ortunya pd takut knp anknya gaada pacar apa anaknya normal? Orng tua sekrng juga rada beda pikirannya.

    Beda kalo mba della, ditanyak in siapa yg ditaksir malah jawab mafiqalbi ghoirullah. Ygy mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Syafira woe! Yakan bebas dong jawab maa fii qalbi khairullah.

      Setuju, sebagian orang tua membebaskan anaknya untuk pacaran. Dan si anak kalopun orang tua ngekakng untuk ga pacaran mereka bakal mikir kalo ortunya toxic. Sekarang anak semakin dikekang semakin berontak. Kurangnya komunikasi antar ortu dan anak juga jadi pemicu nya. Orang tua sibuk kerja, si anak merasa kurng kasih sayang sehingga dia cari kebahagiannya sndiri. Tapi itu ga semua ya.

      Delete
    2. Syafira gk jaman, yg jaman syifa biar bisa nolongin ladusigh

      Delete
    3. Udahla capek soal nama doang

      Delete
  10. Paling ga suka kalo dibilangin sok bahasa Inggris, padahal tiap update story' pake cap n lagu Inggris, mungkin karna emang guoblok atau gatau ya...LAGUNYA SAD EKSPRESI NYA CERIA 😔☝️aduuh nder nder

    ReplyDelete
    Replies
    1. ada lagi nih, post foto bareng pacarnya tapi captnya "my crush🥰" harusnya kan bf 😔 memang benar cinta bisa buat orang jadi bodoh ya

      Delete
    2. WOII 😭😭 aseli sih lebih bagus nungguin mas crush daripada pacaran sampe jadi...b*o*d*o*h

      Delete
    3. BWHAHAHAHA FR SIH

      Delete
    4. Mba rachel kayanya punya dendam sendiri sama orang gituan wgwg

      Delete
  11. Omegotomegott kenapa saya bisa ktinggalaannnnnn omoo

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

8| Dibalik Kelezatan Mie Instant

5 | Between Us and The Others