Pagi menjelang siang itu, aku masih setia duduk diruang tunggu bersama para
pasien lain. Pintu-pintu kaca didepanku bertuliskan nama ruangan
lengkap dengan nama dokter yang menanganinya. Aku duduk disebelah ibuk yang
terlihat santai, menyembunyikan kecemasannya. Hari ini adalah jadwal check-up
keduaku sebagai pasien THT.
Antrian demi antrian terlewati, kini giliran namaku
yang dipanggil. Suster membukakan pintu untuk kami. Aku kembali keruangan ini
lagi, ruangan bernuansa putih dengan aroma khas obat-obatan.
Dokter April,THT-KL. Itu dokter yang menanganiku. Yang diwajahnya ada senyum hangat untuk para pasien, mengisyaratkan bahwa
semua akan baik-baik saja dan semua penyakit pasti ada obatnya.
“Halo anak gadis,” Sapanya seakan sangat mengenalku.
Aku membalasnya dengan senyum. Suster disebelahnya memberikan berkas
peninggalan data diriku padanya. Dia membuka lembar-lembar itu.
“Jadi, gimana rencana operasinya, Ibuk?
Disini perbincangan serius dimulai. Tapi, dokter April itu santai sekali.
“Saya sudah berdiskusi dengan suami saya. Beliau
memutuskan untuk melakukan operasi demi mengangkat penyakitnya.” Suara ibuk
setenang samudra dilautan, tidak tahu kalau hatinya.
Kulihat wajah ibuk dan dokter April bergantian. “Gapapa, Kak, nanti kakak sembuh. Gak sakit-sakit lagi.” Ibuk mengusap
bahuku dengan tangannya.
“Engga sakit, Kak, sama dokter gak sakit. Mana mungkin
dokter nyakitin pasiennya.” Tambah dokter April
meyakinkan.
Awan mendung dibalik jendela trasnparan di ruangan dokter April tidak
sengaja lewat. Menyapaku yang sedang murung ini. Suara kicauan burung terdengar
pilu. Sedih sekali. Ibuk menandatangani berkas-berkas persetujuan rencana
operasiku minggu depan. Secepat itu.
Meski dokter April selalu mengucapkan kata-kata ajaib sebagai mantra
penyemangatku, namun tetap saja aku masih sering takut. Takut bagaimana
kehidupanku setelah operasi. Takut apakah operasi ini lancar atau tidak. Takut
bila aku tidak mampu menatap masa depan. Dan semua ketakutan-ketakutan lain di
dalam kepalaku.
Malam setelah
aku pulang check-up, rembulan tidak tampak. Cahayanya meredup karena tertutup
awan. Aku duduk didekat jendela seraya memeluk kaki. Menatap tidak minat pada
pil-pil obat di depanku. Jam sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB. Namun aku masih
takut menutup mata. Toh, jika aku tertidur lalu terbangun esok pagi, tidak
membuat ini semua adalah mimpi.
Ponselku
bergetar, pertanda ada notif. Aku tidak melirik, bahkan peduli pun tidak pada
benda pipih itu. Rasanya aku ingin sendiri, merenungi nasibku yang malang ini.
Kenapa harus aku? Kenapa penyakitnya harus yang seperti ini? Kenapa tidak yang
mudah-mudah saja ditangani? Kenapa harus sampai di operasi? Kepalaku penuh.
Malam memang sekejam itu.
Setitik air mata akhirnya berhasil lolos dari mata ini. Ia tidak mampu
menahan. Bahkan dari yang setitik itu telah mejadi linangan. Aku merasa dunia
dan impianku benar-benar hancur saat aku tau bahwa aku mengidap penyakit jenis
sinusitis maksilaris. Ini tidak mungkin, tapi inilah nyatanya. Aku semakin
memeluk diriku, menutup mulutku agar tidak menimbulkan isakan. Dalam kondisiku
yang tidak stabil ini, aku berusaha menguatkannya dengan menangis. Berharap air
mata yang keluar mampu mengurangi beban dalam diriku.
Ponselku terus bergetar, kali ini panggilan masuk. Aku lantas mengusap
pipiku yang basah dan segera menggeser tombol merah dilayar. mengangkat video
call dari Amara dan Gea, sahabatku.
“Hai,“ Sapaku.
“Kami pikir kamu sudah tidur karena tidak membalas pesan kami, El.“ Aku
menggeleng pelan membalas perkataan Gea.
“Sudah minum obat?“ Tanya Amara. Aku diam sejenak, melihat kedua temanku,
kemudian menggeleng lagi sebagai jawaban.
“Kenapa belum, El? Minum, dong.“
“Iya, nanti.“
“Gimana tadi chek-up
nya?“
“Lancar.”
Kedua temanku ini terdiam, mengetahui diriku yang irit berbicara. Takut
bila melukai hatiku. Namun mereka tidak berhenti mencari cara lain untuk
membuatku bicara lebih, membuatku menarik bibir keatas seperti sabit walau itu
hanya sesingkat detik jam. Aku mencintai mereka. Aku tidak ingin membuat orang
lain khawatir terhadapku. Aku juga tidak ingin merasa dikasihani. Jujur aku
baru saja menyampaikan kabarku kepada mereka dua hari yang lalu. Membuat mereka
marah dan merasa tidak memerhatikan sahabatnya. Mereka membuatku merasa
dicintai dengan kekurangan yang aku punya.
“Dengar, El. Everything
will be fine.
Tidak ada yang perlu ditakuti. Allah always be there for you, for us.”
Mantra mereka
sama seperti mantra yang diucapkan oleh dokter April dan Ibuk. Apa mantra itu
sangat ampuh menyembuhkan penyakit? Bukan sembarang penyakit, bahkan penyakit
hati sekali pun.
“Kalian tidak
malu punya sahabat yang penyakitan sepertiku?”
Malam itu
tiba-tiba saja hujan turun. Mengguyur bumi yang
beberapa hari belakangan mengering. Mungkin, awan mendung tadi menetap untuk
sementara.
“El, bahkan kami beruntung punya sahabat seperti kamu.“
“El, dengar. Di dunia ini, tidak ada manusia yang sempurna. Kita diciptakan
memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.“
“Ayo, dong, El.
Mana El yang ceria itu? Sini, kembaliin ke
kita. Kita rindu sama El yang itu. Ya ‘kan, Ge.“
“Iya, Mar.“
Aku menarik bibirku keatas spontan. Mendengar celotehan humor mereka.
“Nah, ini! Ini
El kita, Mar.“ Gea menunjuk layar ponselnya antusias.
“Iya, Ge.
Yaampun, cantik banget kalo senyum, ya.”
Rinai hujan menempel di kaca jendela kamarku. Setelah video call
singkat dengan Amara dan Gea, aku langsung menegak pil-pil pahit yang kuabaikan
sedari tadi. Mereka masuk kedalam tubuhku dan mulai bekerja sesuai peranannya.
Mataku yang takut tertidur akhirnya terpejam, tidak lagi cemas bahwa ini
bukanlah mimpi.
Dan hari berlalu, saat operasi akan dilakukan. Untuk pertama kalinya, aku
memasuki ruang operasi. Sengaja bersahabat dengan rumah sakit juga obat-obatan
kimia yang setia masuk ketubuhku. Padahal rumah sakit adalah musuh terbesarku
dan dokter adalah monster bagiku.
Puasa setengah hari telah kulakukan. Kini kursi roda yang kunaiki digiring
menuju ruang operasi, benar-benar secepat itu. Tanganku dingin, dan wajahku
pucat. Ibuk menggenggam tanganku sembari mengucapkan mantra-mantra ajaibnya.
“Kakak anak Ibuk yang kuat. Kakak anak Ibuk yang baik. Allah sayang sama
kakak. Jangan takut. Ibuk sama Ayah disini, nungguin kakak.“ Ayah mengelus
kepalaku. Aku menatap kedalam mata mereka berdua. Aku harus sehat dan tetap
hidup demi mereka.
Setelah itu, suster benar-benar membawaku masuk keruang operasi.
Menjauhkanku dari orang tuaku. Suster ini, bukan suster Kia, asisten dokter
April. Dan aku tidak suka.
Aku dibawa menuju ruang transfer untuk mengganti pakaian dengan pakaian
operasi. Baju hijau dan penutup kepala (cap). Setelah itu, suster membawaku
menuju lorong sepi didalam ruang operasi. Aku sendirian disini bersama
kepasrahanku. Aku benar-benar pasrah.
Beberapa tim medis berlalu lalang. Sibuk menyiapkan proses operasiku. Satu orang
dokter pria datang menghampiriku. Menyapaku dengan senyuman. Apa semua dokter
harus selalu tersenyum? Tapi kenapa suster yang tadi itu terlihat seperti
pemeran antagonis?
“Hai,“ sapanya.
“Nama, Adik, siapa?“ Dia berjongkok, menyeimbangi posisi dudukku. Kulihat
dari perawakannya, sepertinya ia belum menikah.
“Elfira.“ Jawabku singkat tanpa senyum.
“Elfira. Kalau dipanggil apa?“ Dia ramah padaku.
“El.“
“Hanya, El?“ Aku mengangguk sebagai jawaban. Dia lalu menanyakan hal lain,
seperti berapa umurku, dimana aku sekolah, apa hobiku, dan terakhir, apakah aku
takut untuk operasi? Sebenarnya dia ini dokter atau wartawan, sih?
“Jangan tajut, ya, El. Kamu pasti sembuh.“ Dan lagi, aku mengangguk
singkat. Perkataan mereka semua sama.
Kursi roda yang kunaiki kini dibawanya menuju kamar operasi. Tempat
terakhir ruangan besar ini. Area peperangan yang sesungguhnya. Disini, semua
dokter telah berkumpul dengan baju hijau khas operasi tidak terkecuali dokter
April sendiri.
“Halo, anak gadis. Kita ketemu lagi.“ Aku hanya menatapnya sedatar mungkin,
tidak membalas sapaan ramahnya.
Aku berbaring di brankar, dibawah lampu bulat besar diatas tubuhku. Semua
benda disini berwarna putih. Tapi aku tidak punya minat untuk itu. Selang
infusku beberapa kali disuntikkan cairan kimia.
“Oke, Elfira. Siap dioperasi? Jangan takut.“ Kata dokter pria yang
memberikan suntikan pada selang infusku. Ia sempat mengeja namaku di gelang
identitas yang terpasang di pergelangan tangan kananku.
“Kalau sudah terasa perih-perih matanya, tutup saja, ya.“ ujarnya lagi dan
kubalas anggukan. Sorot mataku hanya tertuju pada lampu bulat besar yang belum
dinyalakan itu. Dan tidak lama berselang dari situ, gelap melahap diriku.
Membawaku kepada ketidak sadaran. Pukul 12.00, operasi dimulai.
l
Kelopak mawar
satu persatu gugur seiring pergantian waktu. Beberapa telah mengering dan beberapa masih bertahan. Kalian tau? Bahwa
matahari tidak akan berhenti bersinar demi memberikan manfaat bagi orang lain.
Bahwa laut masih tetap biru untuk memberi kesejukan bagi setiap mata memandang.
Bahwa Tuhan selalu mencintai hamba-Nya yang tidak pernah mau menyerah dan terus
berusaha.
Begitulah kehidupan. Selalu ada hikmah dibalik musibah. Tergantung
bagaimana seorang insan menjalaninya. Akhirnya, aku bisa menorehkan warna pada
kanvas kosong yang kubeli bulan lalu. Ia sempat terabaikan oleh
pemikiran-pemikiran sempit di kepalaku. Ketakutan yang setiap malam timbul
tidak tahu waktu itu sekarang sirna ditelan keberanianku.
Aku sempat overthinking,
aku putus asa, aku hancur, bahkan merasa Tuhan tidak adil kepadaku. Aku merasa, impian
yang telah kurangkai akan hancur seketika. Dan sampai aku merasa bahwa hidup
itu tidak lagi ada gunanya. Namun dari situ,
aku belajar memaknai sebuah kalimat “Jalani semua dengan ikhlas dan sabar. Jika kamu telah mendapat keduanya, maka hidupmu akan
tentram. Karena keduanya, tidak dapat saling terpisahkan.” Itu kata-kata Ayah.
Setelah nyaris tiga jam aku dioperasi dan sukses
membuat orang-orang yang kusayangi cemas, secemas-cemasnya. Saat aku membuka
mataku, saat retina Ibuk dan Ayah adalah objek pertama yang kulihat, dadaku
rasanya merosot. Aku lega. Tuhan memelukku. Ia tersenyum kepadaku. Padahal aku
telah berprasangka buruk pada-Nya. Aku dirundung malu.
Air mata tidak mampu aku bending. Ia merosot kepipiku.
Hatiku tidak henti mengucap asma ilahi. Aku sangat
beruntung. Aku sangat bersyukur.
“Mana yang sakit, Kak?“ Kedua wajah malaikat didepanku terlihat sangat
khawatir. Aku menggeleng, namun tidak bisa berhenti menangis. Mereka
mendekapku, mengelus kepalaku dengan lembut dan penuh kasih. Maka dimana letak
ketidak adilan Tuhan padaku? Bahkan Dia telah memberiku lebih dari sekadar apa
yang aku butuhkan. Kemana pikiranku melayang beberapa hari lalu? Tuhan sangat
sayang padaku.
Bahkan aku beruntung, sangat-sangat beruntung saat semua pengobatanku
terpenuhi dengan mudah. Beda halnya dengan seorang pria lansia yang mengidap
penyakit serupa namun untuk membeli obat saja ia tidak mampu untuk melunasi
semua.
Pria tua itu, yang aku lupa siapa namanya. Meski ia tidak mampu menebus
semua obat, namun diwajahnya selalu ada senyum. Selalu ada keceriaan. Jadwal
check-up kami sama. Aku suka sekali mengobrol dengannya. Ia bersama istrinya.
Dua orang insan yang sudah berumur senja masih setia satu sama lain, bahkan
tidak segan untuk terlihat mesra.
Aku suka sekali mendengar cerita sejarah dari beliau. Semua yang keluar
dari mulutnya seakan membuatku lupa tujuan kedatanganku kesini untuk apa dan
aku mengidap sakit apa. Pria tua ini mengingatkanku pada almarhum kakek. Jika beliau masih hidup
hingga sekarang, pasti ia akan pergi menemaniku untuk check-up. Aku
sayang dengan pria lansia ini. Dari leluconnya, nasihat-nasihatnya, membuat
diriku terhibur.
Hal itu kini telah menjadi kenangan. Ia sempat memberi informasi mengenai
tempat tinggalnya, namun aku belum sempat mengunjunginya. Tidak tahu suatu saat
nanti. Di balik rumah sakit yang kuanggap musuh ini, Allah memepertemukanku
dengan wajah-wajah baru, sekaligus pelajaran dari pertemuan seminggu sekali itu.
Begitu luasnya kuasa Allah. Ia tidak hanya sekadar menempatkanku disituasi
sulit, namun juga membuatku dewasa dengan lingkungan yang kuhinggapi.
Perlahan, aku membuka pikiran, kembali meluruskan niat, meletakkan kepingan
impian yang sempat berjatuhan ketempat semula, merangkai kisah, dan menjadi
penerus pembuat sejarah. Karena hidup tak
melulu tentang kemudahan, bahkan Allah lebih suka memberi hambanya sedikit
hambatan untuk menguji seberapa kuat ia diberi ujian.
Dari situ, aku sadar. Bahwa dunia tidak melulu untuk
dikejar. Kita boleh istirahat sejenak sambil lanjut merangkai impian-impian
kita. Terkadang sakit itu penting untuk meningkatkan pendewasaan kita pada
masalah-masalah hidup. Karena semesta, akan selalu memberikan jalan. Bukankah
buah dari ikhlas adalah sabar?
I don't know what to komen but its realy good
ReplyDeleteIt's okayy, sudah mau mampir kesini saja sudah syukur. Thank u..
Delete
ReplyDeletei think this storyengajarkan kita untuk percaya bahwa semua yg diberikan tuhan itu mampu untuk kita lakukan,disini kita juga diajarkan untuk mempercayai diri kita sendiri bahwa kita sanggup melakukanya♡´・ᴗ・`♡.
In this life, nothing is impossible. Thanks for reading ma first story update....
Delete❤❤
ReplyDelete❤️❤️
Delete������
ReplyDeletenangis bacanya:( ngajarin ikhlas, sabar, tawakkal:) thanks a lot uda buat cerita yg bukan hanya sekedar cerita inii, karya yg begitu brmanfaat! terus berkarya della! im so proud of u girl!
ReplyDeleteMakasi juga udah nyempetin baca, Ca :)
DeleteSemoga tulisan ini mampu menyadarkan kita meski ia tidak dapat berbicara langsung layaknya manusia. Semangat berkarya jugaa..
Xoxo