7| Bisu Dalam Keramaian
Duhai Tuhan, sungguh Engkau telah menciptakan keindahan pada semesta untuk dilihat penduduk bumi. Barangkali menghibur hati yang lara. Oleh banyak hal, mungkin ada yang belum sempat makan sesuap nasi pun saat berbuka tadi? Bukankah tidak adil jika langit yang indah itu hanya dinikmati bagi mereka yang sangat berkecukupan? Aku melihat wajah lelah dan getir mereka, duduk dipinggir trotoar sambil memandang orang-orang berlalu lalang menghidangkan makanan bagi si pemesan. Saat azan berkumandang dan hari semakin gelap. Hanya ada sebotol air sebagai penghilang dahaga. Apakah puasa antara kaum borjuis dengan kaum proletar berbeda meski mereka sama terlahir Islam? Bukankah Islam adalah agama yang ‘selamat‘? Ada dua pasang mata bundar, Tuhan. Menyorot penuh arti dan ingin. Tatapan itu suci. Tidak ‘kah berdosa hamba-Mu membiarkannya menahan selera? Dia juga berpuasa, Tuhan. Ibunya yang mengajarkannya. Apa jadinya jika ia melakukan segala cara untuk mendapatkan sesuap nasi? ...