Posts

Showing posts from March, 2023

7| Bisu Dalam Keramaian

Image
Duhai Tuhan, sungguh Engkau telah menciptakan keindahan pada semesta untuk dilihat penduduk bumi. Barangkali menghibur hati yang lara. Oleh banyak hal, mungkin ada yang belum sempat makan sesuap nasi pun saat berbuka tadi? Bukankah tidak adil jika langit yang indah itu hanya dinikmati bagi mereka yang sangat berkecukupan? Aku melihat wajah lelah dan getir mereka, duduk dipinggir trotoar sambil memandang orang-orang berlalu lalang menghidangkan makanan bagi si pemesan. Saat azan berkumandang dan hari semakin gelap. Hanya ada sebotol air sebagai penghilang dahaga. Apakah puasa antara kaum borjuis dengan kaum proletar berbeda meski mereka sama terlahir Islam? Bukankah Islam adalah agama yang ‘selamat‘?   Ada dua pasang mata bundar, Tuhan. Menyorot penuh arti dan ingin. Tatapan itu suci. Tidak ‘kah berdosa hamba-Mu membiarkannya menahan selera? Dia juga berpuasa, Tuhan. Ibunya yang mengajarkannya. Apa jadinya jika ia melakukan segala cara untuk mendapatkan sesuap nasi? ...

6| Masikah Kita Menjadi Seorang Indonesia Hari Ini?

Happy satnight, Oll! Cuaca di Medan hari ini cerah, ga tau kalo besok. Sama kaya iklan marjan yang belum tau kelanjutannya gimana, wkwk.   Sabtu pagi dirumah, tv udah di setting nonton ceramahan Ustaz Maulana. Memang tiap pagi si Ibuk tontonannya itu, sih. Tapi aku ga ikut nimbrung, cuma ngelirik sekilas doang waktu ngelewati ruang tv. Sampe jam setengah tujuh pagi waktu baru beres nyuci piring, ada berita siaran lokal. Aku lupa di chanel mana tapi yang pasti itu berita Medan. Media itu menyorot satu tempat makan yang unik, namanya Cafe Rumah Pohon. Elisa Pane, nama si pemilik cafe. Tempat makan khas tradisional itu menggunakan andaliman sebagai bahan rempah-rempah untuk memasak. Dimana andaliman merupakan rempah-rempahnya orang batak. Si Ibuk Elisa Pane ini ingin melestarikan masakan khas Indonesia ke generasi penerus. Salah satunya dengan membuka tempat makan dengan menu lokal.   Satu hal yang kulihat dari berita itu adalah, di zaman yang semakin canggih dengan arus glob...

5 | Between Us and The Others

Image
  Hi, Oll! Back to my blog again!  Ternyata hujannya nyambung sampe awal maret. Medan kalo hujan vibesnya kaya Bandung, ya. Adem. Seadem perempatan jalan Aksara yang biasa riuh sama kemacetan gara-gara sopir angkot yang suka nerobos lampu merah. Tapi kalo hujan, suasana jadi tenang dan stabil. Apalagi, toko baju dipinggir jalan itu suka mutar lagu galau dengan volume besar. Kaya, Kangen dari Dewa 19, Peri Cintaku dari Ziva Magnolya, Sang Dewi dari Lyodra dan sederet lagu pop lain yang banyak diperdengarkan di spotify. Waktu itu pulang dari kampus, hujannya cuma gerimis-gerimis kecil. Aku yang baru turun dari angkot untuk nyambung ke angkot lain kadang suka ngebatin kalo denger lagu yang relate sama hidup. Ya Allah, ini lagu apa sindiran, kok ngena banget. Udah kena hujan, denger lagu galau lagi.   Ya, hal-hal sederhana yang suka aku pantau dari jendela mataku setiap hari. Pernah, waktu pulang dari kampus juga waktu lagi di dalem angkot with Mbak Tikah. Keadaan jala...